Jumat, 27 April 2018

Waspadai Bahaya Tipes pada Anak

SEBAGAI  orangtua, kita semua pasti pernah mendapati anak atau bayi kita demam tinggi. Kita pun lalu membawanya ke dokter, dan tahu-tahu dinyatakan gejala tipes. Kita pun langsung kaget dan menduga-duga, kenapa langsung kena gejala tipes. Atau kita kemudian malah berpikir, jangan-jangan ada tipes ganas atau tipes jinak.

BENARKAH DEMIKIAN?
Pertama yang harus kita ketahui, sejauh ini, dalam penyakit tipes belum dikenal istilah ganas atau jinak. Tipes memang berpotensi berbahaya apabila tidak segera ditangani dengan tepat. Lalu kenapa saat anak kita panas dan dibawa ke dokter, tahu-tahu sudah kena gejala tipes, itu bisa saja karena kita belum memahami gejala dan ciri tipes pada anak. Sehingga kita terlewat memperhatikannya. Tahu-tahu si anak sudah kena.

Apalagi pada bayi, yang bisanya hanya menangis atau rewel, tanpa bisa memberitahu di bagian mana yang sakit. Maka pemahaman akan ciri tipes harus memang wajiblah diketahui oleh kita para orangtua, khususnya ibu. Sehingga saat bayi menunjukkan tanda-tanda tergejala, maka bisa segera diambil tindakan tepat dan cepat.

Tipes merupakan infeksi menular, disebabkan bakteri Salmonella Typhi. Diperkirakan 1 dari antara 5 orang bisa meninggal karena komplikasi tipes, apabila tidak segera diobati. Anak dan bayi akan lebih rentan terkena tipes dibanding orang dewasa. Itu sebabnya, para ibu dan orangtua harus mewaspadai gejala atau ciri tipes pada anak. Jangan sampai terlambat.

Penyakit ini bisa membahayakan nyawa penderita apabila tidak ditangani cepat dengan cara yang benar. Pada tahap awal, memang biasanya hanya menunjukkan gejala ringan seperti demam biasa. Namun semakin lama, maka kuman akan makin berkembang biak dan kondisi akan semakin memburuk. Apabila tidak segera mendapatkan pertolongan, penderita dapat mengalami perdarahan usus bahkan kebocoran usus yang dapat berujung pada kematian.

TETAP WASPADA

Perlu dipahami, gejala tipes pada anak bisa berbeda dengan orang dewasa, meskipun penyebabnya sama. Oleh karena itu, sebagai orangtua kita harus cermat, apabila anak kita demam, meskipun belum tinggi. Karena gejala awal penyakit tipes adalah demam, yang juga merupakan gejala juga bagi banyak penyakit.

Kenapa harus selalu waspada? Karena anak kecil lebih rentan terserang tipes daripada orang dewasa, disebabkan daya tubuh memang belum sekuat orang dewasa. Sehingga kita tidak mengenali gejalanya, lalu si anak terlambat dapat penanganan, maka tipes bisa menjadi penyakit yang cukup berbahaya. Apalagi tipes tidak pandang usia. Siapa saja, baik orang dewasa maupun anak kecil, bisa mengalaminya. Terutama bayi yang sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna.

Dalam istilah medis, tipes disebut sebagai demam tifoid, yang merupakan penyakit menular dan terjadi karena infeksi bakteri Salmonella Typhi.

Tipes dapat menular dengan cepat dan sangat berhubungan dengan sanitasi lingkungan dan kebersihan pribadi seseorang. Infeksi oleh bakteri bisa terjadi ketika seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman yang sebelumnya telah terkontaminasi bakteri dari bintik-bintik tinja yang terdapat pada air tercemar. Bisa juga melalui tangan yang tidak dicuci bersih menggunakan sabun ketika memegang makanan.

MASA INKUBASI

Pada umumnya pengaruh bakteri atau gejala tipes akan mulai muncul pada jangka waktu satu hingga tiga minggu setelah tubuh terinfeksi.

Ada pun gejala atau ciri tipes pada anak bisa kita lihat seperti di bawsah ini:

Demam Tinggi: Suhu tubuh tinggi, mencapai 39 derajat celcius bahkan 40 derajat celcius. Semakin hari, suhu tubuh terasa makin tinggi. Suhu mencapai puncak pada sore hingga malam. Kemudian mereda pada pagi dan siang hari, namun tetap tidak mecapai suhu normal. Pada kondisi demam sangat tinggi ini, anak akan selalu gelisah. Apabila demam berlangsung lebih tujuh hari, maka hampir bisa disimpulkan, sudah merupakan gejala tipes.

Lidah Memutih: Lidah akan terlihat seperti kotor dan berselaput di bagian tengah. Sementara pada bagian pinggir dan ujung lidah nampak masih merah.

Gejala Pencernaan: Gejala terkait pencernaan ini bisa dirasakan mulai dari sakit perut, mual, muntah, dan perut kembung. Ini dapat terjadi ketika kuman telah berkembang dan menimbulkan peradangan pada saluran pencernaan. Dalam situasi ini, anak akan mengalami penurunan nafsu makan. Bahkan tidak mau makan. Kalau pada orang dewasa gejala bisa pada kecenderungan mengelami sembelit, maka pada anak kerap berupa mencret.

Organ Hati: Pada tahap lanjutan, hepatosplenomegali atau pembesaran organ hati dan limpa akan dapat terjadi. Kondisi ini terjadi bila kuman makin berkembang lalu menimbulkan peradangan pada organ hati dan limpa. Untuk anak, kondisi ini dapat menambah rasa mual dan ingin muntah, karena pembesaran organ ini dapat menekan lambung anak yang masih kecil.

Sakit Kepala: Selain gejala tersebut di atas, ciri tipes pada anak juga mencakup keluhan pada rasa sakit di kepala. Biasanya rasa sakit itu terbilang serius. Bahkan pada kasus berat, dapat anak bisa jadi mengalami penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

BAGAIMANA PADA BAYI?

Persoalan serius apabila tipes menyerang bayi. Masalahnya, pada bayi, gejala dan ciri tipes pasti lebih sulit dideteksi karena masalah komunikasi. Bayi tentunya hanya dapat menangis atau rewel apabila dia merasa tak nyaman. Dan para ibu tentu akan bingung, apakah rewelang itu memang ditimbulkan oleh penyakit tipes. Sehingga para ibu sebaiknya fokus memperhatikan gejala yang bisa terdeteksi langsung, seperti demam, warna lidah, dan kuantitas mencret.

Selain itu, waspadai juga tanda dan gejala yang tidak khas, yang bisa saja muncul, khususnya pada bayi yang masih muda. Gejala itu tampak sebagai demam akut yang disertai syok dan hipotermi.

OBATI DENGAN TEPAT

Apabila gejala dan ciri tipes pada anak sudah terlihat, maka konsultasi ke dokter adalah upaya paling tepat. Biasanya ada beberapa obat yang dapat digunakan. Namun harus diperhatikan, bahwa penggunaannya harus tetap sesuai anjuran dan dosis dari dokter.

Obat tersebut antara lain:

Kloramfenikol atau Tiamfenikol dengan dosis pemakaian 50-100 mg/kgBB/hari. Ini dibagi menjadi empat dosis per hari dan dapat diberikan secara oral atau melalui suntikan intravena. Ini bisa dilakukan selama kurun waktu 10-14 hari.

Selanjutnya, kalau Kloramfenikol tidak dapat diberikan, maka berikan tablet amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari. Ini dibagi menjadi dua dosis per hari dan dapat digunakan selama 10 hari, sebagai pengganti kloramfenikol. Bisa juga suntikan ampisilin secara intravena atau tablet cotrimoxazol dengan dosis 48 mg/kgBB/hari. Masing-masing juga dibagi dua dosis perhari.

Setelah penggunaan obat di atas dilakukan, namun secara klinis tidak ada tanda-tanda pemulihan, maka dapat dipakai obat sefalosporin generasi ketiga, misalnya seftriakson dengan dosis 80 mg/kg. Ini disuntikkan sekali sehari secara Intravena selama 5-7 hari. Bisa juga obat sefiksim tablet dengan dosis 20 mg/kgBB/hari. Ini dibagi menjadi dua dosis per hari dan diberikan selama 10 hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menyoal Istilah Samosir Kepingan Surga

SAYA tergelitik dengan sebuah ucapan bernada protes dalam sebuah grup WA. Seseorang di grup WA parSamosir itu minta agar jangan lagi men...